Artikel Kesehatan

Apnea Tidur Berisiko Menyebabkan Kerusakan Otak

Sleep Apnea atau Apnea TidurWanita yang menderita sleep apnea (apnea tidur), yang merupakan gangguan tidur akibat kesulitan bernapas, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kerusakan otak dibandingkan pria yang juga menderita sleep apnea. Hal ini berdasarkan sebuah laporan penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini di Journal SLEEP.

Pada penelitian ini, para peneliti mengamati pasien yang didiagnosa gangguan sleep apnea di Universitas California Los Angeles (UCLA). Mereka membandingkan serabut saraf (dikenal sebagai baha putih) di otak pasien penderita sleep apnea  dengan mereka yang tidak menderita gangguan tidur.

Para peneliti juga memfokuskan pengamatan pada perbedaan kerusakan otak antara pria dengan wanita yang menderita sleep apnea.

Wanita berisiko lebih tinggi dibandingkan pria

Menurut kepala pengamatan, Paul Macey, asisten profesor di UCLA School of nursing, penelitian ini mengungkapkan bahwa pada kenyataannya, wanita lebih sering dipengaruhi oleh sleep apnea dibandingkan pria. Wanita yang mengalami sleep apnea obstruktif memiliki risiko lebih tinggi akan terjadinya kerusakan otak yang parah jika dibandingkan pria dengan kondisi yang sama.

Secara khusus, penelitian ini menemukan bahwa wanita terkena dampak di bagian depan otak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan pengaturan mood. Para wanita dengan sleep apnea juga menunjukkan tingkat gejala kecemasan dan depresi yang lebih tinggi. Menurut Macey, hal ini memberitahukan bahwa dokter harus mempertimbangkan bahwa gangguan tidur mungkin lebih bermasalah dan membutuhkan penanganan ekstra pada wanita.

Sleep apnea dan dampaknya bagi kesehatan

Sleep apnea obstruktif (apnea tidur) adalah gangguan tidur serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang sering terganggu saat tidur, bahkan hingga ratusan kali. Setiap kali tingkat oksigen dalam darah turun, maka akan mengakibatkan kerusakan sel-sel di tubuh.

Jika tidak diobati dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, stroke, gagal jantung, diabetes, depresi, dan masalah kesehatan serius lainnya. Dengan hasil temuan ini, para peneliti akan melakukan langkah selanjutnya, yakni mencari tahu apakah mengobati sleep apnea dapat membantu otak.

Artikel Kesehatan | Xinhuanet | image : healthtap.com

Tanggal Publikasi December 9, 2012
Label